kelas : 1EA11
NPM : 15216215
MEMBUAT NOVEL BERTEMAKAN CINTA
Semanis Milo Hangat
Di term pertama dimi memasuki kelas
baru disalah satu tempat less terkenal di bekasi. Satu hal yang biasa dilakukan
anak baru adalah memperkenalkan diri, begitu juga dimi. Dengan kelas yang
memiliki barisan kursi berbentuk setengah lingkaran dimi memandang seluruh
kelas. Mata tertuju kepada salah satu cewe dengan rambut hitam bagus seperti
sol sepatu memakai baju hitam, celan hitam dan sepatu berwarna hitam, “asik
banget baca buku sendirian”, kata Dimi. Menarik tapi Dimi cuek saat itu. Sampai
saat berdiskusi dimulai, Dimi dipasangkan dengan Rossen. Cuek adalah kesan
pertama yang ditangkap Dimi kepada Rossen. Tanpa basa basi Dimi mengeluarkan
kertas untuk mereka kerja kelompok, Dimi menuliskan nama di kertas itu dan tak
lama Dimi bertanya untuk mencairkan suasana. “namanya siapa?” Rossen pun
menjawab dengan dingin “Rossen” tanpa berfikir panjang DImi menjawab “ooooo
nama yang bagus” tanpa melihat Dimi sedikitpun, Rossen diam tidak merespon
perkataan Dimi tadi. Rossen yang dingin dan cenderung suka membaca buku tidak
menghiraukan apa-apa. Dimi kebingungkan berkata “sini, gue bantu” dan Dimi yang
tadinya berfikir “sombong banget dia” merubah fikirannya menjadi “bias ngomong
juga dia haha” akhirnya setelah berdiskusi standard dan gak asik hari itu pun
selesai.
Karena malas
pulang Dimi duduk-duduk di depan tempat less itu, dan ternyata Rossen belum
pulang dan masih dengan posisi dinginnya sambil membaca buku. Entah apa yang
ada difikiran Dimi, dia berjalan menuju Rossen dengan secangkir milo di
tangannya, sesampainya di depan Rossen dia bertanya dengan polos “mau?” Rossen
dengan kaget menatap Dimi dan menjawab “makasih” sambil mengambil milo
tersebut. Dimi memulai percakapan dengan santai “kok belum pulang?” Rossen
menjawab “iya, masih nunggu dijemput mama” dengan kepo Dimi bertanya “ lo suka
banget baca ya?” Rossen menjawab “iya, banget” Dimi pun tambah kepo dengan
Rossen dan bertanya “kenapa suka buku yang tebel-tebel gini?” Rossen menutup
bukunya lalu menatap Dimi “baca buku itu bikin lo pinter, pandangan lo terbuka,
lo bias tau dunia kaya apa Cuma dengan baca buku”. Panjang lebar Dimi dan
Rossen berbincang tentang buku, sampai Rossen dijemput mamanya dan mengatakan
“gue pulang dulu ya. Makasih udah nemenin, oia milonya juga makasih” dan untuk
pertama kalinya dia senyum ke Dimi.
Banyak orang
bilang “lo gak bakal tau hidup lo besok gimana dan sama siapa” makin hari, Dimi
sering mikirin Rossen. Tiga hari kemudian Dimi bertemu Rossen lagi, seperti
sebelumnya, Rossen membaca buku. Bahkan untuk sekedar menyapa tak sempat. Les
hari ini pun selesai dengan suasana dinginnya hujan Dimi menghampiri Rossen
yang belum di jemput dengan memebawa dua gelas milo hangat. Dimi yang tidak
terlalu suka baca buku hanya duduk dan menanyakan beberapa hal kepada Rossen
yang sedang serius membaca. Rossen yang melihat Dimi diam memberi tantangan
kepada imi “eh kalo lo bias namatin buku ini dan ceritain ke gue, gue gak akan
baca buku selama less disini, sebulan 10 hari” Dimi yang ngerasa di tantang
meng-iyakan tantangan itu, sedangkan jika Dimi kalah, Dimi akan mentraktir
Rossen selama 2 bulan. Rossen dan Dimi setuju dengan perjanjian mereka.
Besoknya
Rossen memberikan buku harry potter yang tebalnya bagaikan yellowpages, butuh 3
minggu untuk Dimi menyelesaikan buku itu, dan secara otomatis Dimi kalah dalam
tantangan kali ini. Melihat Dimi yang menyelesaikan buku tersebut selama 3
minggu, Rossen tertawa semua itu membuat Dimi dan Rossen semakin dekat tapi
Dimi baru menyadari selama dia membelikan Rossem milo, Rossen juga tidak
membaca buku di tempat lessnya. Berawal dari tantangan Rossen, Dimi jadi suka
baca buku-buku terutama buku fiksi dan benih-benih asmara pun muncul saat itu
juga. Sampai suatu hari yang hujan sepulang less Dimi memulai pembicaraan
dengan quotes “happiness depends upon ourselves” Rossen yang sedang minum
segelas milo melihat Dimi dan menjawan “sebenernya maksudnya kebahagian itu
apa?” dimi menjawab “mungkin bahagia itu kaya minum milo hangat dikala dingin”,
kata Rossen dan saat itu juga Dimi menyadari kalau dia memang suka dengan
Rossen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar