Kamis, 03 November 2016

Tugas Ilmu Budaya 2.1

Nama: Nabila Nurul Afifa
kelas : 1EA11
NPM : 15216215
MEMBUAT NOVEL BERTEMAKAN CINTA



                                  Semanis Milo Hangat

                Di term pertama dimi memasuki kelas baru disalah satu tempat less terkenal di bekasi. Satu hal yang biasa dilakukan anak baru adalah memperkenalkan diri, begitu juga dimi. Dengan kelas yang memiliki barisan kursi berbentuk setengah lingkaran dimi memandang seluruh kelas. Mata tertuju kepada salah satu cewe dengan rambut hitam bagus seperti sol sepatu memakai baju hitam, celan hitam dan sepatu berwarna hitam, “asik banget baca buku sendirian”, kata Dimi. Menarik tapi Dimi cuek saat itu. Sampai saat berdiskusi dimulai, Dimi dipasangkan dengan Rossen. Cuek adalah kesan pertama yang ditangkap Dimi kepada Rossen. Tanpa basa basi Dimi mengeluarkan kertas untuk mereka kerja kelompok, Dimi menuliskan nama di kertas itu dan tak lama Dimi bertanya untuk mencairkan suasana. “namanya siapa?” Rossen pun menjawab dengan dingin “Rossen” tanpa berfikir panjang DImi menjawab “ooooo nama yang bagus” tanpa melihat Dimi sedikitpun, Rossen diam tidak merespon perkataan Dimi tadi. Rossen yang dingin dan cenderung suka membaca buku tidak menghiraukan apa-apa. Dimi kebingungkan berkata “sini, gue bantu” dan Dimi yang tadinya berfikir “sombong banget dia” merubah fikirannya menjadi “bias ngomong juga dia haha” akhirnya setelah berdiskusi standard dan gak asik hari itu pun selesai.
            Karena malas pulang Dimi duduk-duduk di depan tempat less itu, dan ternyata Rossen belum pulang dan masih dengan posisi dinginnya sambil membaca buku. Entah apa yang ada difikiran Dimi, dia berjalan menuju Rossen dengan secangkir milo di tangannya, sesampainya di depan Rossen dia bertanya dengan polos “mau?” Rossen dengan kaget menatap Dimi dan menjawab “makasih” sambil mengambil milo tersebut. Dimi memulai percakapan dengan santai “kok belum pulang?” Rossen menjawab “iya, masih nunggu dijemput mama” dengan kepo Dimi bertanya “ lo suka banget baca ya?” Rossen menjawab “iya, banget” Dimi pun tambah kepo dengan Rossen dan bertanya “kenapa suka buku yang tebel-tebel gini?” Rossen menutup bukunya lalu menatap Dimi “baca buku itu bikin lo pinter, pandangan lo terbuka, lo bias tau dunia kaya apa Cuma dengan baca buku”. Panjang lebar Dimi dan Rossen berbincang tentang buku, sampai Rossen dijemput mamanya dan mengatakan “gue pulang dulu ya. Makasih udah nemenin, oia milonya juga makasih” dan untuk pertama kalinya dia senyum ke Dimi.
            Banyak orang bilang “lo gak bakal tau hidup lo besok gimana dan sama siapa” makin hari, Dimi sering mikirin Rossen. Tiga hari kemudian Dimi bertemu Rossen lagi, seperti sebelumnya, Rossen membaca buku. Bahkan untuk sekedar menyapa tak sempat. Les hari ini pun selesai dengan suasana dinginnya hujan Dimi menghampiri Rossen yang belum di jemput dengan memebawa dua gelas milo hangat. Dimi yang tidak terlalu suka baca buku hanya duduk dan menanyakan beberapa hal kepada Rossen yang sedang serius membaca. Rossen yang melihat Dimi diam memberi tantangan kepada imi “eh kalo lo bias namatin buku ini dan ceritain ke gue, gue gak akan baca buku selama less disini, sebulan 10 hari” Dimi yang ngerasa di tantang meng-iyakan tantangan itu, sedangkan jika Dimi kalah, Dimi akan mentraktir Rossen selama 2 bulan. Rossen dan Dimi setuju dengan perjanjian mereka.

            Besoknya Rossen memberikan buku harry potter yang tebalnya bagaikan yellowpages, butuh 3 minggu untuk Dimi menyelesaikan buku itu, dan secara otomatis Dimi kalah dalam tantangan kali ini. Melihat Dimi yang menyelesaikan buku tersebut selama 3 minggu, Rossen tertawa semua itu membuat Dimi dan Rossen semakin dekat tapi Dimi baru menyadari selama dia membelikan Rossem milo, Rossen juga tidak membaca buku di tempat lessnya. Berawal dari tantangan Rossen, Dimi jadi suka baca buku-buku terutama buku fiksi dan benih-benih asmara pun muncul saat itu juga. Sampai suatu hari yang hujan sepulang less Dimi memulai pembicaraan dengan quotes “happiness depends upon ourselves” Rossen yang sedang minum segelas milo melihat Dimi dan menjawan “sebenernya maksudnya kebahagian itu apa?” dimi menjawab “mungkin bahagia itu kaya minum milo hangat dikala dingin”, kata Rossen dan saat itu juga Dimi menyadari kalau dia memang suka dengan Rossen.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar