Senin, 26 September 2016

TUGAS ILMU BUDAYA 1.2

DOSEN                : RAMITA HAPSARI
NAMA                 : NABILA NURUL AFIFA
NPM                    : 15216215
JURUSAN           : MANAJEMEN

·        Coba ceritakan sesuai kebudayaan kalian masing-masing mengenai budaya tersebut, lalu budaya atau tradisi apa saja yang mulai hilang atau ditinggalkan oleh masyarakat untuk melestarikan kembali kebudayaan tersebut

Kebudayaan Palembang

Palembang memang dikenal sebagai ibukota propinsi Sumatera Selatan. Jika Palembang sudah ada sejak jaman Sriwijaya, maka tak mengherankan menjadi kota tua yang ada di Indonesia. Usia kota Palembang saat ini sudah mencapai 1330 tahun. Sebagai kota tua di Indonesia, tentunya tidak sedikit sumbangsih Palembang terhadap kekayaan budaya dan kesenian. Berdasarkan peninggalan kerajaan Sriwijaya, Palembang memiliki kebudayaan yang sangat beragam mulai dari seni tari, pakaian, seni kerajinan dan kuliner.
  •  Tari Gending Sriwijaya

                                                 

Seni tari menjadi salah satu unsur kebudayaan yang menonjol dan selalu menarik perhatian orang. Salah satu tarian yang menjadi kekhasan wilayah ini adalah tari Gending Sriwijaya. Tari ini biasanya untuk menyambut tamu istimewa, misalnya saja kepala Negara, gubernur, pejabat dan lain sebagainya. Konon kabarnya tari Gending Sriwijaya sudah ada sejak zaman kerajaan Sriwijaya. Biasanya tarian ini dibawakan oleh sembilan penari wanita dengan pakaian adat aesan gede, paksangkong dodot, selendang mantra dan tanggai. Karena ditujukan untuk menyambut tamu istimewa. Biasanya penari paling depan membawa tapak berisikan kapur-sirih. Tapak ini yang diberikan kepada tamu istimewa dan selanjutnya tamu istimewa tersebut mengambil sekapur sirih yang ada di dalamnya. Garakan tarian Gending Sriwijaya sangat lambat, para penarinya membutuhkan latihan yang lebih intensif karena kebutuhan gerakan tersebut.
Para penari yang baru pertama menarikan tarian ini badannya terasa sakit. Tarin ini dilaraskan dengan lagu berjudul sama dengan nama tarian ini. Lagunya itu bercerita tentang keagungan Kerajaan Sriwijaya. Sedangkan tari Tanggai adalah tarian yang sama populernya dengan tari Gending Sriwijaya. Sebenarnya tari ini sedikit mirip dengan tari Gending Sriwijaya seperti gerakan dan pakaian yang digunakan. Namun tari Tanggai biasanya digunakan untuk acara-acara penting seperti acara resepsi pernikahan, acara khitanan dan sebagainya. Penarinya juga biasanya hanya 3 sampai 5 orang saja. Selain itu, hal lain yang membedakannya adalah musik yang mengiringi tarian ini. Musik untuk mengiringi tari Tanggai biasanya hanya berupa iringan instrumen musik saja tanpa adanya lagu yang dibawakan.

  • Kain Songket

                                                               

Seperti kebanyakan kain-kain bermutu tinggi di tanah Sumatera, Palembang juga memiliki kain tenun songket. Biasanya kain songket ini terbuat dari benang emas. Kain Songket ini dipakai untuk pakaian bawah pada wanita. Pada jaman sekarang kebanyakan kain Songket hanya digunakan untuk acara-acara tertentu seperti acara pesta pernikahan dan sebagainya. Karena pakaian adat ini yang harganya sangat mahal dan berbahan dasar emas. Tak jarang banyak menjadi incaran pencuri karena nilai ekonominya yang tinggi. Selain kain Songket masih yang menjadi pakaian adat, yakni aesan gede, paksangkong dodot, selendang mantra dan tanggai. Pakaian ini biasanya dikenakan oleh penari-penari tradisional untuk tarian seperti gending Sriwijaya ataupun tari tanggai. Pengantin di Palembang biasanya juga mengenakan pakaian adat ini.
Pada zaman dahulu, pakaian adat ini hanya dikenakan oleh raja-raja atau pejabat tinggi saja. Tentu saja pakaian adat ini menggambarkan kejayaan Kerajaan Sriwijaya pada zaman dahulu. Hal ini terlihat dari bahan pembuat pakaian ini yang terbuat dari benang emas. Maka tak heran untuk saat ini harga pakaian adat Palembang bisa mencapai jutaan rupiah. Selain bahan dasarnya yang berasal dari emas, motifnya juga sangat beragam.

  • Nasi Minyak

                                                

Selain dipengaruhi unsur kebudayaan China dan Melayu, Palembang juga dipengaruhi dengan budaya India. Nasi minyak dan martabak telur dapat bersanding dengan pempek. Nasi minyak ini merupakan nasi yang dimasak dengan minyak samin dan biasanya dihidangkan untuk acara-acara resmi seperti pernikahan dan sebagainya. Nasi minyak ini sendiri merupakan makanan asli orang India. Hal ini juga berlaku untuk martabak telur yang terbuat dari telur ayam atau telur bebek yang menjadi isi dan kemudian digoreng. Martabak telur ini selanjutnya dimakan dengan kuah kari dan merupakan makanan asli India juga.

                            Kebudayaan yang hampir hilang dan punah
  • Wayang Palembang


Kesenian tradisional wayang kulit Palembang, Sumatera Selatan, sekarang ini sudah punah karena tidak ada lagi generasi baru yang meneruskannya. Para dalang tua yang menguasai wayang dengan dialog berbahasa khas Melayu Palembang itu sudah tiada lagi. Sementara pemerintah dan lembaga kebudayaan tidak memiliki agenda konkret untuk melestarikan kekayaan tradisi itu.
  • Tolek abang- tradisi merayakan hari kemerdekaan di kota Palembang


Telok Abang dan Agustus di Palembang memang tidak bisa lepas dari tradisi di kota ini, mainan yang sudah ada sejak sebelum kemerdekaan di mana pada tahun 1930-an saat sering di adalekannya pasar malam di kawasan pinggiran sungai musi (sekarang menjadi plaza BKB) dimana pasar malam yang terbentang dari daerah hulu ke hilir (Dari Bekangdam sampai ke Gedung pasar 16 sekarang) awal kemerdekaan kita +/- tahun 1945 baru bendera merah di tambahkan di telok abang ini, memang sangat menarik dan hanya ada di kota ini dan hanya saat menjelang Agustusan, Telok abang yang awalnya hanya berbentuk pesawat terbang sekarang ini sudah banyak modifikasi ada jenis scooter, becak, bus, helikopter, tank dan lain sebahagainya. Jalan merdeka merupakan pusat dari penjualan telok abang di mana dari depan eks hotel

  • Lekuer khas palembang 



Untuk menemukannya juga sulit karena tidak ada papan nama lorong. Pada sekitar akhir tahun 1980-an untuk mencarinya tidaklah sulit. Hampir semua orang Palembang yang ditanya “di mana perajin lakuer”, akan menjawab: Lorong Antik! Untuk mencarinya di Jalan Pasar Kuto cukup melihat deretan ruko sebagai ruang pamer (show room) yang menjual barang-barang tersebut.

                                    Upaya melestarikan kebudayaan yang hampir punah
  • -          Mengenali dan bangga akan budaya yang sudah ada
  • -          Kebijakan pemerintah
  • -          Menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya budaya sebagai jati diri bangsa
  • -          Ikut melestarikan budaya dengan cara berpartisipasi dalam pelaksanaanya
  • -          Mempelajarinya
  • -          Mensosialisasikan kepada orang lain sehingga mereka tertarik untuk ikut menjaga atau melestarikannya


Kesimpulan:
palembang merupakan suatu daerah yang mempunyai banyak sekali kebudayaan, dan kebudayaan tersebut berbentuk kebudayaan daerah yang wajib kita jaga dan lestarikan. Budaya asing yang terus masuk tanpa terbengdung dapat mengikis ataupun melunturkan budaya local/daerah, sehingga upaya-upaya harus dilakukan dalam menanggulangi permasalahan tersebut sehingga budaya daerah dapat tetap ada. Berbagai cara dapat dilakukan dalam melestarikan budaya, namun yang paling penting yang harus pertama dimiliki adalah menumbuhkan kesadaran serta rasa memiliki akan budaya tersebut, sehingga dengan rasa memiliki serta mencintai budaya akan membuat orang mempelajarinya sehingga budaya akan tetap ada karena pewaris kebudayaan akan terus ada.

Sember:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar